KOMANDO ENAM
30 pria sipil berjuang menjalankan tugas dari pasukan elit Indonesia.
Hanya 6 pria terbaik yang akan bertahan hingga akhir.



Tayang : 2010
di Astro Awani, Ch. 30


   

<< January 2012 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31






website statistics software

If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



 
Jul 23, 2008
WIRA TANGKAS 6 : SWIM CASH HASILKAN ENAM WIRA TERBAIK

Cilacap, 20-23 Juli 2008

Tahap laut menjadi babak terakhir dari kompetisi Komando Enam, sebelum dilaksanakannya tahap Aplikasi yang menjadi penentuan wira yang akan membawa pulang satu unit mobil SUV.  Untuk itu, 12 wira yang tersisa kini harus bertarung sekuat tenaga di tahap Laut untuk mengamankan posisi mereka di enam besar, sekaligus membawa pulang paket wisata safari Afrika.

Memasuki hari ke-24 kompetisi, persaingan antara 12 wira semakin ketat.  Hanya enam tempat yang tersedia di final.  Artinya, di akhir tahap ini separuh dari mereka akan tereliminasi.  Wira-wira yang selama ini keluar masuk Zona Waspada bertekad untuk membuktikan bahwa mereka layak menjadi enam besar.  Di lain pihak, wira-wira yang pernah memegang tongkat pemimpin juga semakin waspada.  Lengah sedikit, mereka akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan satu unit mobil SUV.

Oleh karena itu, ke-12 wira memulai tahap Laut dengan konsentrasi tinggi.  Seperti tahap-tahap sebelumnya, latihan dibuka dengan pengenalan terhadap medan dan berbagai perlengkapan yang biasa dipakai di sana.  Laut bukanlah medan yang mudah untuk ditaklukkan.  Oleh karena itu di tahap ini para wira mendapatkan bimbingan dari tenaga profesional.  Mereka diajarkan teknik mendayung alat-alat transportasi yang dipakai di laut, mulai dari kano, kole-kole (perahu rakyat), hingga perahu karet (LCR).  Tidak hanya itu, mereka juga diperkenalkan dengan alat selam dan teknik swim cash, yaitu renang menuju daratan (pantai) yang diawali dengan pelepasan dari LCR berkecepatan tinggi di tengah laut. 

Materi-materi tahap ini kembali menjadi kendala bagi tiga wira 'alumni' kelompok G7 yang tersisa, yaitu wira-wira yang dulu mendapatkan bimbingan renang ekstra dari para pembina.  Jika di Wira Tangkas perdana mereka 'hanya' menaklukkan danau, kini lautan lepas menjadi tantangannya.  Tidak mudah membangun kepercayaan diri bagi wira-wira ini.  Namun dengan latihan intensif selama tiga hari, mereka mulai dapat mengatasi tantangan ini.

Wira Tangkas di hari keempat menjadi pembuktian bagi seluruh wira.  Mereka harus menaklukkan sejumlah tantangan dalam waktu sesingkat-singkatnya.  Kali ini mereka harus menyelesaikan tiga tugas.  Pertama, swim cash dengan mengambil dua bendera yang diapungkan di laut.  Sampai di darat, mereka masih harus melalui tiga pos, yaitu pemakaian perlengkapan selam, melewati terowongan ban, dan menarik ban truk besar hingga garis finish.  Jika tugas tidak diselesaikan dengan sempurna, wira akan dikenakan penalti waktu.

Tantangan ini tidaklah mudah bagi para wira, karena mereka harus pintar mengatur stamina di laut maupun darat.  Tiga wira yang dulu tergabung dalam kelompok G7 pun harus pintar menyusun strategi supaya tidak kalah bersaing dengan wira-wira lain yang unggul di laut.

Sayangnya, tidak semua wira beruntung dengan strateginya masing-masing.  Salah satu dari tiga wira G7 tidak bisa mengendalikan dirinya saat dilepaskan dari LCR di tengah laut.  Rasa takut berada di tengah lautan lepas membuatnya menyudahi perjuangannya di Wira Tangkas kali ini.  Situasi ini menunjukkan bahwa Wira Tangkas ini tidaklah mudah.  Yang harus bisa ditaklukkan bukan hanya sekedar medan yang sulit, tetapi juga ketakutan yang mungkin muncul di diri sendiri.

Didorong motivasi tinggi untuk mendapatkan hadiah wisata safari Afrika, 11 wira lain melaju dengan strategi masing-masing.  Beberapa wira memutuskan untuk mencuri waktu di darat, sementara yang lain mengerahkan tenaga maksimal dari awal diterjunkan dari LCR.  Akhirnya, dengan perjuangan masing-masing, 11 wira berhasil menembus garis finish.

Kini saatnya penentuan enam wira dengan catatan waktu terbaik, yang otomatis mendapatkan hadiah wisata safari Afrika, sekaligus kesempatan memperebutkan satu unit mobil SUV di tahap Aplikasi.  Secara mengejutkan, beberapa nama menembus jajaran enam wira terbaik, sekaligus memupus harapan wira-wira lain untuk berkompetisi di tahap Aplikasi.

"Inilah momen eliminasi yang paling mendebarkan bagi para peserta kompetisi.  Pertama, karena langsung enam orang yang tersingkir, bukan tiga seperti biasanya.  Kedua, tereliminasi berarti hilang sudah obsesi wisata gratis ke Afrika dan lenyap pula mimpi mendapatkan mobil SUV." ungkap Rizal Mustary, Executive Producer Astro Awani.

Siapa saja yang berhasil masuk enam besar dan mendapatkan wisata safari Afrika?  Mungkinkah alumni G7 menempatkan wakilnya di jajaran enam wira terbaik?


Posted at 10:15 pm by Komando-6
Comment (1)  

 
Jul 19, 2008
WIRA TANGKAS 5 : PERTARUNGAN DI RAWA CILACAP

Cilacap, 15-19 Juli 2008

Tiba di Cilacap, 15 wira bergerak menuju Kompleks Pelatihan Kopassus Amirul Isnaini yang berlokasi di pinggir pantai. Di sinilah mereka akan menghabiskan waktu pelatihan sampai akhir penyelenggaraan kompetisi.

Materi pertama yang diperoleh di Cilacap ini adalah seputar rawa : pentingnya rawa, pengenalan tumbuhan dan binatang rawa, serta tanaman bakau yang harus dilestarikan.  Teori yang diterima wira pun langsung dipraktekkan dengan terjun langsung di penyeberangan basah di rawa yang berada di salah satu pulau di seberang Cilacap.  Sebagai penambah motivasi, para pembina telah 'menanam' sejumlah botol di rawa berisikan keterangan hadiah bagi wira yang menemukannya.  Mendapat penawaran yang menarik, 15 wira kembali berjuang untuk mencari botol-botol tersebut.  Namun akhirnya hanya satu wira yang beruntung mendapatkan reward berupa kesempatan menelepon kerabat selama 10 menit.

Wira Tangkas menjadi agenda selanjutnya.  Seperti latihan sebelumnya, para wira harus melewati medan yang penuh dengan rintangan seperti rawa, lumpur, dan hutan bakau secepat-cepatnya.  Mereka hanya bisa berpatokan pada tanda yang telah dipasang sebagai penunjuk jalan.  Tantangan kali ini adalah, seluruh perlengkapan yang menempel di badan (kopel, topi, sepatu) harus terbawa hingga garis finish.  Jika tidak lengkap, para wira akan dikenakan penalti waktu.

Dari titik start, para wira dilepaskan dalam kelompok kecil yang terdiri dari tiga orang. Medan yang sulit dan berliku-liku membuat beberapa wira sulit menentukan arah. Kesulitan untuk bergerak pun dirasakan di beberapa titik, sehingga mempertahankan perlengkapan yang menempel di badan pun terasa sulit.  Dengan susah payah akhirnya para wira berhasil menyelesaikan seluruh medan.

Babak eliminasi kembali menjadi saat-saat menegangkan bagi para wira.  Enam wira yang dinilai terlemah sepanjang tahap rawa harus masuk dalam zona waspada.  Lima dari posisi tersebut ditempati nama-nama baru, termasuk di antaranya adalah mantan pemegang tongkat pemimpin yang sempat tersesat saat di Wira Tangkas.  Walaupun demikian, eliminasi tetap harus dilaksanakan. Tiga wira harus menanggalkan kalung militernya dan meninggalkan pelatihan Komando Enam.

Kini tinggal satu tahap lagi yang harus dilalui 12 wira yang tersisa, sebelum terpilih menjadi enam wira terbaik di Komando Enam.  Tahap tersebut menjadi penentu wira mana saja yang akan mendapatkan hadiah paket wisata safari Afrika, sekaligus berkesempatan membawa pulang satu unit mobil SUV. 
Siapa saja yang akan bertahan? 


Posted at 08:19 pm by Komando-6
Make a comment  

 
Jul 15, 2008
LONG MARCH 30 KILOMETER MENUJU CILACAP

KOMANDO ENAM kini memasuki babak-babak akhir. 
Dari 29 wira, kini tinggal tersisa 15 orang.  Setelah menaklukkan bukit dan rimba, sekarang mereka siap berjuang di medan berikutnya yaitu Cilacap.  Berbeda dengan metode serpas (geser pasukan) sebelumnya, kali ini para wira harus mencapai Cilacap dengan cara long march.  Long march ini dilakukan dari Desa Kawunganten, sebuah desa yang berada di perbatasan propinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah.  Jarak yang harus ditempuh sekitar 30 kilometer, dengan melewati 4 kampung.

Long march dimulai pada pukul 5 pagi.  15 wira berjalan dalam formasi dua banjar, dengan satu orang di depan membawa bendera merah putih.  Medan yang harus dilalui untuk menuju kampung pertama, Kampung Sawangan, terbilang sulit karena berbatu dan berbukit-bukit.  Setiap beberapa jam para wira disegarkan dengan guyuran air, dan diberi kesempatan untuk beristirahat sejenak.

Setelah makan siang di Kampung Jeruk Manalagi, mereka meneruskan perjalanan melewati permukiman penduduk.  Medan tidak semakin mudah, karena mereka harus melewati rel kereta api panas di bawah terik matahari, sawah, hingga tambang semen.  Para wira juga harus melalui Gunung Gembor yang penuh dengan kuburan Tionghoa. 

15 wira tiba dengan selamat di dekat PDAM Cilacap sekitar pukul 2 siang. Namun mereka tidak bisa beristirahat terlalu lama, karena harus segera menerima sejumlah materi baru. 
Seperti apa tantangan yang akan dihadapi berikutnya?
Siapa yang akan tersisih selanjutnya?


Posted at 03:20 pm by Komando-6
Make a comment  

 
Jul 14, 2008
WIRA TANGKAS 4 : HOW TO FIND FIGHTER

Situlembang, 10-14 Juli 2008

Situasi dan medan belantara Situ Lembang yang sulit menjadi hambatan bagi beberapa wira.  Beberapa kembali jatuh sakit karena tidak bisa menyesuaikan diri dengan udara malam yang bisa mencapai 6 derajat Celcius.  Namun dengan semangat tinggi, para wira terus berjuang agar bisa terus bertahan di KOMANDO ENAM.

Memasuki hari keempat di hutan Situ Lembang, Wira Tangkas kembali dilakukan.  Kali ini Wira Tangkas menguji ketangkasan para wira menaklukkan rintangan di hutan, lengkap dengan teknik penyamaran seperti layaknya prajurit.  Dimulai dari titik start, mereka harus melalui delapan pos rintangan, mulai dari peluncuran, jaring pendarat, penyeberangan basah, rayapan tali menukik, titian dua tali, lorong babi, lempika (lempar pisau kampak) dan tangkap ular.  Seperti biasa, setiap rintangan yang tak dilalui dengan sempurna akan mendapatkan penalti waktu. 

Para wira berangkat begitu aba-aba dikumandangkan.  Walau beberapa rintangan tidak lagi asing bagi mereka, keberadaannya di medan rimba tidak membuatnya menjadi lebih mudah ditaklukkan.  Belum lagi dua pos terakhir, Lempika dan Tangkap Ular, yang terbilang baru bagi mereka.

"Dalam kondisi tenaga yang sudah terkuras, mereka harus memusatkan konsentrasi dalam melempar 4 belati dan 4 kampak agar tepat mengenai sasaran.  Rintangan tidak berhenti di situ karena mereka harus menuju pos terakhir, dimana telah menunggu ular cincin emas, sanca, dan kobra.  Mereka harus menangkap satu di antaranya, dan dibawa ke garis finish yang berjarak 10 meter dari situ." ujar Wahyu Mulyono, Produser KOMANDO ENAM.

Menghadapi kemungkinan tereliminasi, para wira berjuang lebih keras untuk menyelesaikan Wira Tangkas kali ini.  Tiba di garis finish, semua wira menunggu keputusan siapa yang harus meninggalkan KOMANDO ENAM di tahap rimba ini.  Bertempat di tepi Danau Situ Lembang, para wira kembali menghadapi proses eliminasi.  Enam wira yang dinilai paling lemah kembali masuk Zona Waspada.  Tiga di antaranya masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki di tahap selanjutnya, sementara tiga yang lain harus menanggalkan kalung militer (dogtag) sebagai tanda bahwa perjalanan mereka di KOMANDO ENAM telah berakhir.

Bagi 15 wira yang tersisa, perjalanan untuk menjadi KOMANDO ENAM masih panjang.  Mereka masih harus menaklukkan dua medan lagi di Cilacap. 
Siapa yang akan tersisih selanjutnya?
Siapa yang akan bertahan dan membawa pulang 1 unit mobil SUV?


Posted at 10:09 pm by Komando-6
Make a comment  

 
Jul 11, 2008
TAHAP RIMBA : SAAT PARA WIRA HARUS BERTAHAN HIDUP DI HUTAN

Situ Lembang, 10 - 14 Juli 2008

Pernahkah Anda membayangkan bagaimana bertahan hidup di tengah hutan dengan ancaman binatang buas dan tanpa suplai makanan?  Anda harus bisa menangkap berbagai jenis ular, memotong ular itu, untuk kemudian dikonsumsi agar bertahan hidup.  Itulah yang diajarkan dan dirasakan langsung oleh para wira KOMANDO ENAM, setelah melewati tiga tahap kompetisi yakni meditasi, basis, dan arga.

18 wira yang tersisa harus bertarung di tahap keempat, yaitu Rimba.  Seperti namanya, tahap ini dilewatkan di belantara rimba Situ Lembang.  Hutan ini dipercaya masih menjadi habitat asli dari binatang buas seperti harimau, macan kumbang, dan ular.  Beberapa warga sekitar bahkan masih menggunakan area ini sebagai tempat berburu babi hutan.  Lokasinya pun cukup terpencil.  Jarak perkampungan terdekat harus ditempuh dalam 1 jam perjalanan.  Itu pun tidak bisa menggunakan mobil karena medan yang berbatu dan berbukit-bukit.

Kali ini para wira mendapat pelatihan cara bertahan hidup di tengah hutan.  Selama tiga hari mereka mendapatkan materi pengenalan peta, kompas, dan tanaman hutan ; mana yang aman dikonsumsi, mana yang bisa dijadikan obat, dan mana yang berbahaya.

Materi yang diberikan adalah cara menghadapi binatang berbahaya yang paling sering ditemukan di hutan, yaitu ular.  Berhadapan dengan binatang melata ini, beberapa wira harus menundukkan rasa takut mereka.  Tidak hanya teori, mereka juga harus mencoba sendiri menangkap ular dengan teknik yang benar.  Tidak berhenti di situ, mereka juga diajarkan cara membunuh ular seperti sanca dan kobra, dan mengolah binatang tersebut sampai aman dikonsumsi saat mereka harus bertahan hidup (survive) di tengah hutan.

"Sungguh ini pelajaran yang langka namun sangat berharga bagi mereka.  Tidak banyak orang sipil yang mendapatkan pengetahuan ekstra tentang cara bertahan hidup di hutan.  Kini mereka bisa mendapatkannya dari pelatih profesional." ujar Rizal Mustary, Executive Producer Astro Awani.

Tidak mudah mengatasi rasa takut terhadap binatang melata yang mematikan tersebut.  Walau bagaimana pun, kompetisi harus terus berlanjut.  Para wira harus siap menaklukkan berbagai tantangan yang ada, termasuk segala sesuatu yang berhubungan dengan ular.
Akankah ada wira yang mundur dari tantangan kali ini?
Siapa yang akan tersisih selanjutnya?


Posted at 07:30 pm by Komando-6
Comment (1)  

 
Jul 9, 2008
WIRA TANGKAS 3 : PANJAT TEBING

KOMANDO ENAM Mulai Menantang Alam
Citatah, 5-9 Juli 2008


Lepas dari tahap dasar pelatihan Meditasi dan Basis, para wira kini mulai menantang alam.  Dakibu (pendaki serbu) merupakan pelatihan terakhir mereka di Kompleks Pendidikan Kopassus di Batujajar.  Di sesi latihan ini para wira harus menaklukkan dinding dengan berbagai kemiringan.  Kembali ini menjadi tantangan bagi wira-wira yang sebenarnya takut ketinggian.  Akan tetapi dengan penguasaan diri dan dukungan dari rekan wira lain, mereka sanggup melewati latihan tersebut dengan baik.

Selesai pelatihan Dakibu, para wira siap menantang alam.  Mereka akan mulai berinteraksi dengan berbagai jenis alam, mulai dari bukit, rimba, rawa, hingga laut.  Citatah menjadi tempat pertama dimana para wira berinteraksi langsung dengan alam.  Jika di Batujajar para wira masih menempati barak prajurit, di Citatah mereka harus belajar hidup mandiri dalam tenda.  Tidak ada lagi fasilitas listrik atau kamar mandi memadai seperti yang tersedia sebelumnya.  Belum lagi kondisi udara perbukitan Citatah yang relatif berbeda dari Batujajar.  Beberapa wira yang tidak bisa merespon perubahan ini dengan cepat, akhirnya jatuh sakit dan melewatkan sesi pelatihan di sana.

Di wilayah yang didominasi tebing terjal ini, seluruh materi yang didapatkan di tahap Meditasi dan Basis akan diuji.  Mereka harus mampu menaklukkan tebing dengan menggunakan kemampuan mereka sendiri.  Bagi wira yang terbiasa mendaki gunung atau memanjat tebing, tantangan ini tidak akan menjadi masalah.  Tapi bagi yang tidak memiliki bekal tersebut, tentu bisa menjadi halangan tersendiri.  Oleh karena itu, para wira diberi waktu tiga hari untuk mengikuti pembekalan secara intensif.

"Tak semua wira bisa menaklukkan tebing.  Tapi dengan bimbingan pelatih profesional, mereka akhirnya bisa juga mencapai titik dan ketinggian tertentu yang ditargetkan pelatih." ungkap Wahyu Mulyono, Produser KOMANDO ENAM.  Para wira pun diberi kesempatan untuk mempraktekkan materi dakibu yang diberikan di Batujajar untuk diaplikasikan di alam Citatah.

Memasuki wilayah kompetisi baru, intrik antar wira mulai timbul.  Perbedaan sifat dan perilaku mulai tampak setelah dua minggu hidup bersama.  Inilah realita, dimana 21 wira dengan latar belakang berbeda hidup bersama dalam satu tekanan yang sama.  Adu mulut dan pendapat perlahan mulai terjadi.  Sampai akhirnya terjadi satu kesalahan yang harus ditanggung bersama-sama.  Peristiwa ini bahkan nyaris berujung pada kontak fisik, sebelum akhirnya berhasil diselesaikan dengan kepala dingin.

Walau bagaimanapun, kompetisi terus berjalan.  Wira Tangkas tetap harus dilakukan untuk menentukan wira mana yang pantas lanjut ke tahap berikutnya.  Dalam Wira Tangkas kali ini, para wira harus mengambil sejumlah bendera yang sudah ditempatkan di sepanjang tebing.  Bendera-bendera tersebut ditempatkan dalam tiga jalur yang memiliki tingkat kesulitan berbeda.  Wira yang berhasil mengumpulkan bendera terbanyak dalam waktu tersingkat akan berkesempatan mendapatkan tongkat pemimpin, seperti halnya di Wira Tangkas sebelumnya.

Dihadapkan dengan kemungkinan tereliminasi, setiap wira mendaki secepat-cepatnya dan mengumpulkan bendera sebanyak-banyaknya.  Selain fisik yang prima, strategi juga diperlukan dalam Wira Tangkas kali ini.  Para wira harus berpikir taktis.  Mereka harus bisa memilih jalur yang bisa diandalkan untuk memanen bendera.  Tidak hanya itu, mereka juga harus bertarung dengan waktu.

Akhirnya setiap wira berhasil mendaki bukit terjal tersebut.  Di atas bukit, mereka harus berhadapan dengan proses eliminasi.  Seperti biasa, enam wira yang dinilai lemah sepanjang penyelenggaraan tahap Arga akan masuk dalam Zona Waspada.  Wajah lama dan baru mewarnai zona ini, termasuk di antaranya adalah nama-nama yang justru unggul di dua tahap sebelumnya.  Walaupun demikian, eliminasi harus terus dilakukan.  Tiga wira yang tidak menunjukkan peningkatan kemampuan harus tersisih dan mengubur impiannya untuk mendapatkan paket wisata impiannya dan satu unit mobil SUV.

Setelah tahap Arga ini, para wira akan berangkat menuju medan alam berikutnya, yakni rimba Situ Lembang.  Setelah itu, para wira akan melakukan long march menuju Cilacap untuk mengikuti tiga tahap akhir kompetisi.  Siapa yang akan bertahan hingga menjadi KOMANDO ENAM?


Posted at 09:30 pm by Komando-6
Make a comment  

 
Jul 5, 2008
TIDAK ADA TEMPAT BAGI WIRA BERMENTAL LEMAH

KOMANDO ENAM kini siap memasuki tahap ketiga, yaitu Arga. 
Di tahap ini para wira menghadapi materi kompetisi yang semakin menantang.  Kompetisi semakin sulit dan menuntut konsentrasi tinggi dari para wira.  Lengah fisik atau mental sedikit saja, mereka bisa tersingkir.  Ini terbukti pada seorang wira yang ternyata tidak siap secara mental untuk bersaing dengan rekan-rekannya.  Melihat kondisinya yang dapat membawa pengaruh buruk bagi teman-temannya yang lain, sang wira akhirnya dikeluarkan dengan tidak hormat oleh Detasemen Komando Enam.

"Sejak awal kita tekankan, kita tidak ingin mentolerir apalagi memberikan perlakuan yang berbeda kepada setiap wira.  Kalau tak sanggup memenuhi tuntutan kompetisi, lebih baik pulang." ungkap Rizal Mustary, Executive Producer Astro Awani.

Di hadapan teman-temannya, ia diperintahkan untuk meninggalkan kompleks pelatihan segera.  Peristiwa ini menjadi pelajaran bagi para wira bahwa KOMANDO ENAM merupakan suatu kompetisi yang tidak saja serius, tapi juga menuntut standar yang tinggi.  Tidak ada tempat bagi mereka yang bermental lemah.  Setiap detik yang dilalui sangatlah berharga dan merupakan perjuangan untuk menjadi yang terbaik.  Sama seperti slogan yang diusung selama ini, "Anda Ragu-Ragu, Lebih Baik Kembali".

Kini tersisa 21 wira yang siap meninggalkan Batujajar untuk menghadapi tantangan selanjutnya di KOMANDO ENAM.
Siapkah mereka menghadapi tantangan demi tantangan selanjutnya?
Siapa yang akan bertahan hingga akhir?
Siapa yang akan mendapatkan 1 unit mobil SUV?


Posted at 08:00 pm by Komando-6
Make a comment  

 
Jul 4, 2008
WIRA TANGKAS 2 : HALANG RINTANG KETINGGIAN

Batujajar, 1-4 Juli 2008

KOMANDO ENAM pun memasuki tahap kedua, yaitu BASIS. Tahap yang masih diselenggarakan di Batujajar ini menjadi tahap persiapan lanjutan bagi para wira sebelum mereka terjun ke lapangan.

"Secara teori, bila mereka lolos di tahap meditasi dan basis di Batujajar, maka tahap-tahap berikutnya menjadi lebih enteng dan tak menjemukan, karena di situ mereka sudah berinteraksi dengan alam" kata Rizal Mustary.

Pada tahap ini, para wira dilatih kepercayaan dirinya dalam menempuh halang rintang ketinggian. Halang rintang ketinggian tersebut terdiri dari beberapa bagian, seperti tali peluncur, titian tali, rayapan tali, hingga jaring pendarat.  Tahap ini menjadi masalah bagi beberapa wira yang memiliki fobia ketinggian. Salah satu wira bahkan harus berhenti beberapa saat supaya bisa menguasai rasa takutnya.  Namun dengan semangat tinggi, seluruh wira bisa menyelesaikan seluruh tahap latihan.

Menjelang Wira Tangkas kedua, para wira bersiap-siap. Bertempat di Lapangan Hitam, kali ini peserta harus melewati sejumlah halang rintang ketinggian seperti yang sudah dilakukan dalam latihan.  Bedanya di Wira Tangkas para wira harus bergelut dengan waktu, yang nantinya menjadi salah satu bahan pertimbangan dilakukannya eliminasi. Rangkaian halang rintang ini diawali dengan lari jarak pendek (sprint) ke satu titik dimana para wira harus melakukan 10 kali push up. Sprint dilanjutkan ke titik kedua untuk melakukan 10 kali sit up, dan diakhiri dengan sprint menuju ke titik 3 kali pull up.

Setelah itu, para wira dihadapkan pada 10 jenis halang rintang ketinggian, yaitu : tali peluncur, ayunan jaring pendarat, titian tali satu, titian tali dua, rayapan tali satu, rayapan tali dua, jembatan goyang, rayapan tali satu menukik, jaring pendarat, dan tali ayunan.  Di sini para wira dituntut untuk cerdik mengatur staminanya agar tidak kehabisan tenaga sebelum Wira Tangkas usai.  Selain itu, mereka juga harus menyelesaikan seluruh tantangan dengan sempurna, termasuk penggunaan tali pengaman dan perlengkapan keselamatan lainnya. Jika ada yang terlewatkan, mereka akan dikenakan penalti waktu.

Dihadapkan pada kemungkinan tereliminasi, para wira berjuang sekuat tenaga menyelesaikan seluruh tantangan.  Secara tidak terduga, wira-wira yang berada dalam kategori unggul di Wira Tangkas pertama justru kali ini menemukan kesulitan.  Belum lagi tuntutan untuk menyelesaikan tantangan dengan sempurna.  Entah lupa atau terlalu berkonsentrasi dengan waktu, beberapa wira justru sering melewatkan perlengkapan keselamatan, sampai akhirnya diingatkan oleh pelatih.  Terbukti, halang rintang ketinggian ini bukanlah suatu hal yang mudah. 

Setelah semua catatan waktu dan penilaian harian dikumpulkan, para wira bersiap menjalankan proses eliminasi.  Seperti sebelumnya, akan ada enam wira yang dinyatakan dalam zona waspada, dimana tiga di antaranya akan tersisih.  Kali ini eliminasi dilakukan di lapangan mock tower, yang biasa digunakan Kopassus untuk latihan terjun payung.  Beberapa nama baru muncul di zona waspada, menandakan kompetisi KOMANDO ENAM berlangsung semakin ketat.  Dari enam orang ini, akhirnya diputuskan tiga wira yang harus menanggalkan dogtag-nya, sebagai tanda berakhirnya perjalanan mereka di kompetisi ini.

3 wira kembali tereliminasi.
Siapa yang akan bertahan hingga akhir?


Posted at 05:11 pm by Komando-6
Make a comment  

 
Jul 1, 2008
"SAYA TIDAK AKAN MENYERAH SEBELUM BENAR-BENAR DINYATAKAN TERELIMINASI!"

Eliminasi pertama telah berlalu.
26 wira yang tersisa terus melanjutkan pelatihan di KOMANDO ENAM.  Perjalanan tersebut tidaklah mudah, mengingat sebagian besar wira berasal dari kehidupan sipil yang jauh dari rutinitas militer.  Tuntutan untuk beradaptasi dengan cepat sempat menjadi masalah bagi para wira.

Salah satu wira harus mengalami luka lepuhan pada kedua telapak kakinya.  Luka ini terjadi ketika mereka harus membiasakan diri untuk beraktivitas dengan seragam lengkap tentara atau PDL.  Beban dan panas tinggi membuat kedua telapak kakinya melepuh.  Setelah sempat beberapa kali menolak untuk dikeluarkan airnya oleh tim medis, akhirnya sang wira menyerah.  Operasi kecil pun dilakukan dengan menyayat kulit yang rusak dan mengeluarkan air dari luka lepuhan.  "Saya tidak akan menyerah, sebelum benar-benar dinyatakan tereliminasi." katanya. Kini sang wira harus menjalani seluruh latihan dengan perban dan menggunakan sandal.

"Ini tanda bahwa para wira mulai merasakan beban yang amat berat, karena tahap-tahap awal di Batujajar ini sungguh-sungguh menguji kemampuan fisik selama 8 hari di Batujajar." kata Rizal Mustary, Executive Producer Astro Awani.

Mungkinkah sang wira bertahan menghadapi tantangan yang semakin berat?
Siapakah yang akan tereliminasi selanjutnya dari Wira Tangkas?
Siapa yang akhirnya membawa pulang 1 unit mobil SUV?


Posted at 12:30 pm by Komando-6
Make a comment  

 
Jun 30, 2008
WIRA TANGKAS 1 : BIATHLON

Batujajar, 27-30 Juni 2008

Kompetisi KOMANDO ENAM siap dimulai.
Seluruh perjalanan panjang ini akan dimulai dengan tahap meditasi. Tahap ini merupakan tahap dasar dari seluruh pembinaan para wira.  Di sini fisik dan mental mereka dipersiapkan secara khusus melalui serangkaian bimbingan fisik: lari, lompat, naik/turun bukit, push up, sit up, pull up, hingga berenang.  Keterampilan ini diharapkan menjadi bekal para wira untuk melaksanakan tahap-tahap berikutnya yang lebih berat.

Pelatihan tidaklah mudah bagi para wira yang belum terbiasa melakukan aktivitas fisik secara rutin.  Adaptasi terhadap cuaca dan berbagai atribut baru harus dilakukan dengan cepat.  Akibatnya sejumlah wira mengalami cedera.  Bahkan ada yang harus melalui latihan dengan terbebat perban.

"Dua hari pertama di Batujajar memang jadi penyesuaian yang berat buat mereka." ujar Rizal Mustary, Executive Producer Astro Awani.  "Banyak yang belum terbiasa dengan beban berat dalam tingkat intensitas tinggi.  Akhirnya ada beberapa yang cedera, mulai dari keram kaki saat renang dan lari, sampai melepuhnya telapak kaki karena tidak tahan dengan panasnya lars yang dipakai."

Menjelang Wira Tangkas pertama, para wira mulai bersiap-siap.  Tantangannya adalah lomba biathlon, yang diawali dengan renang di Danau Cimanglid sejauh 300 meter dan dilanjutkan lari sejauh 2 kilometer dengan medan berbukit.  Kecemasan tersendiri muncul di tim G7, grup yang terdiri dari 7 orang wira yang mendapatkan bimbingan ekstra dalam renang.  Mereka harus menyiapkan kekuatan ekstra untuk menyelesaikan Wira Tangkas ini supaya tidak tereliminasi.

Kompetisi pun dimulai.  Para wira dibawa ke titik start yang ada di salah satu sisi Danau Cimanglid, yang masih berada di dalam kompleks pusat pendidikan.  Setelah diberikan aba-aba, para wira berlomba-lomba menuju daratan.  Secara mengejutkan wira-wira yang tidak unggul justru memimpin di depan, meninggalkan wira-wira lain di belakang.  Para wira yang tergabung di tim G7 sempat menemukan kesulitan.  Namun secara tidak terduga, beberapa di antaranya justru bisa mendahului wira-wira lainnya.

Tiba di darat, para wira tidak bisa sepenuhnya beristirahat.  Berlomba dengan waktu, mereka harus menempuh medan berbukit sejauh 2 kilometer.  Beberapa wira yang telanjur mengeluarkan 100% tenaga saat renang mulai menemukan kesulitan.  Di sinilah kesempatan para wira yang tergabung di tim G7 untuk menyusul.  Mereka berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankan posisi mereka dalam KOMANDO ENAM.  Dengan semangat tinggi, akhirnya mereka menyentuh garis finish.  Beberapa bahkan mencetak waktu yang relatif lebih baik dibandingkan rekan-rekan lainnya.

Usai wira tangkas, para wira dihadapkan pada proses eliminasi.  Tiga wira yang dinilai paling lemah harus meninggalkan kompetisi.  Secara mengejutkan, beberapa wira yang diduga unggul justru menempati Zona Waspada, zona bagi para wira yang memiliki kemungkinan besar untuk tereliminasi.  Penilaian ternyata tidak dibatasi pada catatan waktu yang dalam pelaksanaan Wira Tangkas, tetapi juga sepanjang penyelenggaraan kompetisi.  Mereka dipersilakan menggantung kalung militer (dogtag) di pancang-pancang yang telah disiapkan di tepi danau, sebagai tanda bahwa mereka telah tersisih dari KOMANDO ENAM.

"Setelah tiga hari digembleng di Batujajar kini mereka sudah memiliki kekompakan, kebersamaan dan rasa kekeluargaan satu sama lain.  Jika belum selesai menyelesaikan pelatihan atau belum berkumpul semua, mereka tidak akan makan terlebih dulu.  Semuanya harus dilakukan bersama-sama.  Ketika ada seseorang yang kehabisan tenaga saat melakukan Wira Tangkas, peserta lainnya menyemangati wira yang kepayahan tersebut." terang Riza Primadi, Editor in Chief Astro Awani.

3 wira telah tersisih, menyisakan 26 wira yang harus terus berjuang untuk mendapatkan 6 wisata safari dan 1 unit mobil SUV.
Siapa yang akan bertahan hingga akhir?


Posted at 05:30 pm by Komando-6
Make a comment  

Next Page